Home » » Adakah sistem yang keliru ?

Adakah sistem yang keliru ?

Adakah Sistem Yang Keliru ?
sumber foto: myinfomath.blogspot.com

Awal abad ke – 21 ditandai dengan berbagai perubahan yang mencengangkan. Kenyataan tersebut telah menghadapkan masalah pendidikan pada suatu kesadaran kolektif. Sebagai agen perubahan sosial pendidikan nilai yang berada dalam atmosfer modernisasi dan globalisasi saat ini dituntut untuk mampu memainkan peranannya secara dinamis dan pro-aktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi baru yang berarti bagi perbaikan moral manusia, baik pada tataran intelektual teoritis maupun praktis.
Berangkat dari referensi tersebut, apakah pendidikan sejalan dengan tujuannya atau justru mengalami kemunduran dan berpaling jauh dari tujuannya. Berikut akan kami uraikan terkait dengan masalah Pendidikan.
1. Arti Guru dulu dan Guru Sekarang
Sekurang-kurangnya selama dua dasawarsa terakhir ini hampir setiap saat, media massa khususnya media cetak dan media online memuat berita tentang guru. Namun, berita-berita tersebut cenderung memberitakan berita yang melecehkan posisi para guru, sedangkan guru-guru nyaris tak mampu membela diri.
Hugget (1985) mencatat sejumlah besar politisi Amerika Serikat yang mengutuk para guru kurang profesional, sedangkan orangtua juga telah menuding mereka tidak kompoten dan malas. Kalangan industri pun memprotes para guru karena hasil didikan mereka dianggap tidak bermamfaat. Tuduhan dan protes tersebut sudah tentu memorosotkan harkat dan martabat para guru.
Padahal, zaman dulu jauh sebelum era globalisasi dan sampai pada generasi milenial sekarang ini, profesi dan posisi guru konon di hormati seperti para priyayi. Dalam deretan kegiatan atau even-event tertentu, guru selalu berada di barisan utama para pemangku jabatan.. bukan hanya itu,secara psikologis, harga diri dan wibawa para gurujuga tinggi, sehingga para orangtua pun berterimakasih jika anak-anaknya “di hajar” guru kalau anak-anaknya berbuat kurang ajar dan mengganggu. Jadi posisi guru di mata kalangan masyarakat sangat terhormat.
Berbeda dengan keadaan sekarang, kini keadaan Guru telah berubah drastis. Profesi guru adalah profesi yang “kering”., dalam artian kerja keras para guru membangun SDM hanya sekedar untuk mempertahankan kepulan asap dapur mereka saja. Bahkan harkat dan martabat mereka di mata masyarakat merosot, seolah-olah menjadi warga negara kelas dua yang tidak memiliki peran sama sekali.
Sementara itu, wibawa para guru di mata murid pun jatuh. Murid-murid masa kini, khususnya yang menduduki sekolah-sekolah baik di di desa maupun di kota keluhan guru-guru sama. yaitu mereka menghormati guru-guru karena ingin mendapatkan nilaiyang tinggi atau ingin naik kelas.
Sikap dan perilaku masyarakat seperti itu tak sepenuhnya tanpa alasan yang bersumber para guru. Ada sebagan guru yang terbukti memang berpenampilan tidak mendidik. Ada yang memberi hukuman di luar batas kewajaran, bahkan ada juga guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap murid-muridnya.
Kelemahan lain yang di sandang par guru adalah rendahnya tingkat kompetensi profesionalisme mereka. Hasil penelitian Suyono ( dalam Akbar) tentang mutu guru di berbagai jenjang pendidikan mengatakan bahwa : guru kurang mampu merefleksikan apa yang pernah di lakukan, dalam pemenuhan tugas, guru terpancing untuk memenuhi target minimal, yaiti agar murid mampu menjawab soal-soal dengan benar, para guru tampat enggan berpaling dari model pembelajaran yang di anggap tepat, guru selalu mengeluh tentang kurang lengkap dan kurang banyaknya buku paket, kecendrungan guru dalam melaksanakan tugas mengajar, ”hanya” memindahkan informasidan ilmu pengetahuan saja, dan dimensi pengembangan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif kurang di perhatikan. Selain itu banyak guru mempunyai pekerjaan sdampingan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahtraan hidupnya.
Jadi, tak heran jika di antara guru ada yang mengalami stres dan frustasi sehingga ada oknum guru yang tidak kuat imannya, berbuat di luar batas norma edukatif dan norma susila seperti yg di jelaskan sebelimnya.
2. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter dewasa ini menjadi solusi alternatif bagi perkembangan siswa menjadi insan ideal. Pendidikan karakter diarahkan untuk menanamkan karakter bangsa secara menyeluruh, baik pengetahuan (kognitif), nilai hidup (afektif), maupun tindakan terpuji (psikomotor). Dengan pendidikan karakter diharapkan lahir manusia Indonesia yang ideal seperti yang dirumuskan dalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. UU Sisdiknas tersebut menyatakan bahwa fungsi pendidikan Indonesia adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan tujuan pendidikan Indonesia adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan dan fungsi pendidikan nasional tersebut mengandung makna secara substansi bahwa pendidikan kita diarahkan kepada pendidikan berbasis pembangunan karakter.
Belakangan ini banyak sekali pelatihan-pelatihan yang di lakukan oleh pemerintah untuk para guru. Mulai dari pelatihan K-13, Pelatihan pengembangan keprofesionalisme guru, dan pelatihan-pelatihan lainnya kaitannya dengan peningkatan kompotensi guru. Yang menjadi pertanyaan adalah, Apakah dengan banyaknya pelatihan-pelatihan yang di lakukan oleh pemerintah yang di ikuti para guru menjadikan mereka berkarakter ? apakah murid-murid juga berkarakter, implikasi dari pelatihan para guru ?
Menurut Khairil, ada tiga hal yang menjadi perhatian terkait upaya menanamkan pendidikan karakter. Pertama, kesadaran jika perubahan dan pembentukan karakter tidak bisa dilakukan dalam waktu sesaat. Kedua, minimnya waktu belajar siswa di sekolah-sekolah. “Yang ketiga itu lebih penting, jangan menyimpulkan gagalnya pendidikan karakter karena sebuah kasus. Kita harus menyimpulkan pada fakta yang menggejala, jika kesalahan pendidikan dituding sebagai gagalnya pendidikan karakter, saya rasa itu tidak adil,” kata Khairil, Minggu (11/12/2011) malam, seusai membuka kampanye nasional “Peran Penelitian dan Pengembangan dalam Pembangunan Karakter Bangsa”, di Hotel Horison, Bandung, JawaBarat.(https://edukasi.kompas.com/read/2011/12/12/10273315/gagalnya.pendidikan.karakter.kesalahan.pendidikan)
Menurut Prof. Dr Jasruddin, M.Si dalam Kuliah Tamu di Universitas Muhammadiyah Makassar program Pascasarjana di Ged. Aula Kedokteran (senin,30 April 2018), Menyampaikan bahwa, Pendidikan karakter itu tidak untuk di ajarkan, akan tetapi di contohkan sebagaimana yang di lakukan oleh Rasulullah SAW dalam menanamkan dan menumbuhkan karakter terhadap para sahabat yakni dengan mencontohkan kebaikan-kebaikan.
3. Realitas Pendidikan Masa kini
Pada awalnya pendidikan dimaksudkan untuk mendidik benih manusia agar anak manusia ini tumbuh menjadi seorang yang berakhlak tinggi dan mulia, yang berbeda dengan manusia purba. Investasi manusia di sini berarti memanusiakan manusia, yaitu mengajarkan nilai kehidupan kepada seorang anak manusia, yang diibaratkan benih manusia. Misi utama lembaga pendidikan adalah mengajarkan budi pekerti, etika, saling mengalah dan mendulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Hal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Setelah itu institusi dan tenaga pendidik baru akan mengajarkan keterampilan yang membuat benih manusia itu mampu menyokong hidupnya sendiri di masa depan.
Pendidikan sekarang lebih berorientasi kepada bagaimana meningkat kecerdasan, prestasi, keterampilan, dan bagaimana menghadapi persaingan. Pendidikan sekarang kehilangan misi utamanya untuk investasi karakter manusia.Pendidikan moral dan karakter bukan lagi merupakan faktor utama seorang anak mengenyam pendidikan. Kedua hal ini dianggap menjadi tugas para tokoh agama, tugas orang tua atau wali di rumah. Sekolah berlomba menonjolkan kurikulum yang dipercaya bisa menciptakan generasi muda super dari usia sedini mungkin.
Momentum hari pendidikan Nasional 2018, harapan kami perlu di lirik dan meriview kembali sistem pendidikan yang berlaku. Mengutamakan tujuan pendidikan yang menghasilkan kualitas SDM yang mumpuni, bukan menghasilkan SDM yang hanya sebatas melakoni atau sebagai penikmat pendidikan. Output Pendidikan di harapkan mampu sebagai pelaksana, perombak, dan solusi dari permasalahan pendidikan yang ada, bukan sebaliknya menambah beban dan menjadi masalah di dunia Pendidikan.

Sumber: igi.com

Thanks for reading Adakah sistem yang keliru ?

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment