Home » » Candi yang keluar dari bumi

Candi yang keluar dari bumi

Leluhur orang Bali diyakini berasal dari Dieng. Kesamaan orang Bali dan Dieng yang masih ada hingga sekarang adanya anak-anak rambut gimbal.

Salah satu relief di Candi Setyaki.© Aris Andrianto /Kontributor Beritagar.id

Malam itu Saroji (55), mendapat mimpi tak biasa. Ia terbangun dari tidurnya. Badannya gemetar, keringat dingin mengucur deras. Ia ketakutan. "Mimpinya benar-benar aneh," kata Saroji, awal Oktober lalu.

Sehari-hari, Saroji bekerja di Unit Pelaksana Teknis Daerah Dieng. Selain menjaga parkiran, ia juga membuat minuman purwaceng dalam kemasan. Ia asli Dieng yang paham betul karakter daerah itu.

Ia adalah penemu candi baru di kawasan Dieng itu. Candi baru itu ditemukan pada 22 September 2013. Sebelum menemukan candi baru, ia bercerita, dirinya mendapat bisikan gaib. Dalam bisikan itu, ia diminta untuk mendaki bukit Pangonan. Bukit ini letaknya tak jauh dari Kompleks Candi Arjuna.

Berada di ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut itu, kata bisikan itu, ada sebuah candi yang minta digali. Benar saja, di daerah itu ternyata ada sebuah candi baru yang kini dinamakan Candi Wisanggeni.

Tak jauh dari Candi Wisanggeni, menurut bisikan yang sama, juga ada sebuah situs baru di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Dari bisikan yang diterimanya, Saroji harus menggali sedalam satu meter. Penggalian itu membuahkan hasil. "Bisikannya tepat, ternyata tempat yang ditunjukkan persis seperti di dalam bisikan," katanya.

Ia menambahkan, sejak pertama menerima bisikan gaib itu, makin ke sini makin kuat suaranya dan makin sering. Bisikan itu langsung mengarahkan Saroji untuk menuju ke arah tertentu dari Gunung Pangonan.

Total ada satu candi dan empat bangunan yang diperkirakan sebagai padepokan Hindu di masa lalu. Menurut dia, candi-candi baru mulai bermunculan meski sebelumnya penduduk setempat tak melihat keberadaan candi tersebut.

Tak mudah mencapai bukit Pangonan. Selain harus mendaki perbukitan, di sisi kanan dan kiri juga terdapat jurang. Namun saat ini penduduk setempat sudah membuat jalur baru yang relatif lebih mudah dijangkau.

Pemandangan di atas bukit memang berbeda dibanding bukit lain di Dieng seperti Bukit Prau atau Sikunir yang lebih dulu kondang dibanding Bukit Pangonan. Di bukit ini, orang bisa melihat matahari terbenam dan terbit sekaligus.

Ada juga pemandangan Telaga Merdada dari atas bukit. Selain itu ada hamparan padang savana yang mencapai 10 hektare.

Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno mengatakan, penemuan situs baru itu tergolong aneh. "Mengapa dari lahan seluas ini mereka langsung menuju satu titik," katanya.

Padahal, kata dia, tak ada petunjuk fisik apapun yang mengarahkan ada sistus di tempat mereka berdiri. Di bukit itu, yang ada hanyalah semak belukar dan rerumputan. Menurut dia, bukit Pangonan bisa menjadi lokasi baru wisatawan selain kompleks Candi Arjuna. "Kemungkinan akan ditemukan banyak candi lainnya dan bisa dijadikan objek wisata baru," katanya.

Hadi mengatakan, selain candi, di sekitar area tersebut ada bangunan Dharmasala. Bangunan ini diperkirakan merupakan tempat para cantrik atau murid menimba ilmu agama Hindu.

Kompleks candi tersebut, seperti yang tertulis dalam prasasti diperkirakan mulai dibangun tahun 713 atau abad XIII hingga abad XV. Sedangkan luas keseluruhan kompleks candi-candi itu mencapai 100 hektare.

Candi Setyaki yang belum selesai rekonstruksi ulangnya.© Aris Andrianto /Kontributor Beritagar.id

Saat ini sudah ada lima kompleks candi yang dikenal. Kompleks tersebut yakni Candi Arjuna, Dwarawati, Gatotkaca, Bima dan Magersari. Sedangkan kompleks candi lainnya mulai bermunculan.

Kepala Seksi Purbakala dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Hutomo mengatakan, candi di Dieng merupakan candi Hindu tertua di Nusantara. "Candi di Dieng bukan untuk pencitraan atau kemegahan tapi khusus untuk peribadatan," katanya.

Ini berbeda dibanding candi Borobudur dan Prambanan. Itulah mengapa candi di Dieng bentuknya sederhana namun terletak di lokasi yang sangat spesifik. Antara kompleks candi dan panorama alam merupakan satu kesatuan.

Ia menambahkan, candi Dieng mirip dengan candi-candi Hindu di India. Bentuk paling kentara adalah pada Candi Bima yang arsitekturnya sangat mirip dengan candi-candi di India.

Kepala Subbagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Dieng, Aryanto mengatakan, jika dilihat dari penampakannya situs-situs di bukit Pangonan merupakan tempat belajar agama Hindu pada abad kedelapan. "Dari hasil observasi sementara itu seperti tempat belajar agama, mirip Darmasala tapi itu bukan candi jika melihat dari struktur pondasi batu," katanya.

Situs tersebut memiliki lebar 3 meter dan panjang 4 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Menurut dia, di bukit Pangonan kemungkinan masih banyak situs-situs lain.

Arkeolog dari Balai Budaya Cagar Budaya (BBCB) Jawa Tengah Winda Artista Harimurti mengatakan, dilihat dari bentuknya, bangunan kuno tersebut memang menyerupai sebuah candi. Selain ada wujud kala di pintu depanya, bangunan kuno tersebut juga menyerupai bangunan candi-candi Dieng.

Ketua Kelompok Masyarakat Sadar Wisata Dieng Pandawa, Alif Faozi mengatakan, di bukit Pagonan kemungkinan masih akan banyak ditemukan situs-situs lain, karena di bukit tersebut masih banyak ditemukan batu-batu seperti candi. "Mungkin bisa lebih banyak lagi, masih banyak ditemukan batu-batuan," katanya.

Sedangkan lokasi situs ini berada di lereng yang agak curam, sebagian situs juga sudah rusak, karena dipinggirnya agak longsor akibat struktur tanahnya yang sudah melorot. Besarannya kira-kira sama seperti candi yang ada di kompleks Arjuna.

Selain ancaman longsor, situs candi di Dieng juga tak luput dari ancaman pencurian. Ia mengatakan, penanganan situs Dieng lebih tertata dengan baik saat masih zaman Orde Baru. "Waktu zaman pak Soeharto, lahan yang ada situsnya tidak boleh dibangun rumah. Bahkan petani ditransmigrasikan agar tidak membuka lahan untuk pertanian," katanya.

Namun sejak zaman reformasi, petani yang tak mempunyai lahan beramai-ramai membuka lahan untuk pertanian kentang. BP3 Jawa Tengah sendiri memperbolehkan tanahnya digarap warga dengan ketentuan tanah itu tidak ada situsnya.

Warga diberikan tanah kaplingan seluas 20x20 meter untuk membuka lahan pertanian. Saat ini oleh warga lahan tersebut digunakan untuk menanam kentang.

Menurut dia, banyak lahan pertanian yang di luar zona situs justru ditemukan bebatuan bekas candi. Ia menghitung ada seratusan bekas lokasi candi yang saat ini sudah berubah menjadi pemukiman warga dan lahan pertanian.

"Bahkan candi banyak terserak di lahan pertanian akibat disembunyikan oleh warga pada saat Islam menghancurkan peradaban Hindu di Dieng," katanya.

Akibat penghancuran itu, banyak patung yang tidak memiliki kepala. Atau jika ditemukan, patung kepala itu terserak di bagian lain kawasan. Petani, kata dia, sering menemukan potongan patung saat mencangkul lahannya dan diserahkan ke BP3 dengan imbalan sembako.

Dari ratusan bekas candi itu, kini tinggal sembilan candi yang masih berdiri tegak. Padahal, di dekat Watu Kelir Desa Dieng Wetan, dirinya pernah menemukan tumpukan bebatuan bekas candi yang sudah rusak. Di tempat itu dahulu kemungkinan ada dua candi yang berdiri.

Persoalan lainnya, kata dia, dari sekitar 84 hektare luas lahan situs Dieng yang masuk daerah itu, baru 37 hektare lahan yang sudah disertifikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Total luas lahan mencapai 380 hektare yang terbagi di dua kabupaten yakni Banjarnegara dan Wonosobo.

"Alih fungsinya cukup tinggi menjadi lahan kentang sehingga menyulitkan untuk dilakukan proses sertifikasi," katanya.

Penemuan banyak artefak candi juga dibenarkan oleh Mukson, pengelola Museum Kailasa Dieng. Selama ini penemuan artefak di ladang pertanian biasanya diserahkan ke pengelola museum ini. "Kesadaran petani saat ini sudah bagus, mereka akan menyerahkan benda bersejarah itu ke museum," katanya.

Ia mengatakan, ratusan artefak berupa arca, lingga yoni dan bebatuan bagian candi kini masih disimpan di gudang museum. Pernah suatu ketika, kata Mukson, ada arca Shiwa dan dua makara dicuri orang. "Tapi secara misterius benda yang hilang tadi bisa kembali ke tempatnya semula," katanya.

Kompleks Candi Arjuna Dieng. Candi ini merupakan peninggalan Agama Hindu yang dibangun pada abad ke 7.© Aris Andrianto /Kontributor Beritagar.id

Kembali ulang ke tanah leluhur

Mbah Naryono, (80), duduk tanpa banyak gerak di depan perapian. Percikan bara api dari arang kayu sawo tidak membuatnya kaget. "Anglo ini sudah berumur 16 tahun," ujar Mbah Naryono membuka percakapan, awal Oktober lalu.

Sore itu ia sedang tidak sehat. Flu berat. Tubuhnya terbungkus rapat pakaian hangat. Tak lupa sarung terlilit di lehernya. Khas penduduk Dieng. Ia terlihat renta. Jenggot panjangnya sudah memutih. Tangan kanannya agak membengkak.

Mbah Naryono merupakan sesepuh Dieng. Selama ini ia dipercaya sebagai juru kunci sejumlah situs peninggalan Hindu seperti candi dan tempat keramat lainnya.

Namun, ia menolak disebut sebagai orang pintar. "Saya memang sering mengantarkan umat Hindu Bali untuk sembahyang di tempat-tempat suci," katanya.

Pada September lalu, kata dia, sekitar 70 orang dari Bali mendatangi Candi Dwarawati untuk sembahyang. Selain itu, mereka juga sesekali bersembahyang di Candi Arjuna.

Ia mengatakan, leluhur orang Bali berasal dari Dieng. Itulah mengapa hubungan batin antara Mbah Naryono dengan orang-orang Bali begitu dekat.

Jika ada kegiatan sembahyang di Dieng, Mbah Naryonolah yang mengantar orang-orang tersebut. "Mereka biasanya mendapat wangsit agar berdoa di Dieng," katanya.

Jika pada tahun-tahun lalu kedatangan orang Bali biasanya setahun sekali, akhir-akhir ini mereka kerap datang untuk sembahyang. Uba rampe sembahyang bahkan dibawa langsung dari Bali.

Ia berkisah, kesamaan orang Bali dan Dieng yang masih ada hingga sekarang yakni adanya anak-anak rambut gimbal di kedua daerah itu. Rambut gimbal itu hanya bisa hilang jika diruwat oleh tetua adat seperrti Mbah Naryono.

Mbah Naryono sudah meruwat dan memotong rambut gimbal sekitar 40 tahun. Ia dahulu juga berambut gimbal.

Upacara Hindu terbesar yang pernah digelar yakni pada tiga tahun lalu. Mereka mengadakan upacara Tawur Agung Labuh Gentuh di Kawah Sikidang.

Pada saat itu, sejumlah sesaji dilemparkan ke dalam kawah. Termasuk seekor anak kambing yang menjadi perlambang persembahan kepada dewa dewi. Sedangkan sapi dan kerbau urung dilemparkan ke kawah karena pertimbangan tidak tega, oleh masyarakat setempat.

"Seperti pada upacara lainnya, sesaji merupakan simbol persembahan kepada leluhur," kata Ketua Paguyuban Sekehe Astiti Rahayu Rsi Markandya Gunung Sari Artha, Mangku Alit Artha, beberapa waktu lalu.

Sejumlah 60 pemuda Dieng Kulon Kecamatan Batur Banjarnegara sedang mempersiapkan diri untuk mementaskan Tari Rampak Yakso Pringgondani. Tari asli Dataran Tinggi Dieng itu bercerita tentang Gatotkaca yang memberantas raksasa atau Buto yang membuat kekacauan di muka bumi.© Aris Andrianto /Kontributor Beritagar.id

Ia mengatakan, saat upacara Tawur Agung itu, sekitar 130 umat Hindu datang ke Dieng. Bagi warga Bali, leluhur mereka berasal dari Dieng. Karena bencana alam dahsyat, leluhur mereka berjalan kearah timur. Singgah di Tengger Bromo, Banyuwangi dan berhenti di Bali.

Mangku Alit Artha mengatakan, mereka meyakini leluhur mereka merupakan orang Dieng. Ia menambahkan, prosesi Tawur Agung di Bali biasanya dilaksanakan 100 tahun sekali. Sesaji yang dilarung di kawah, sudah disiapkan dari Bali. Termasuk gamelan untuk pengiring tari Bali.

Saat itu, biaya yang dihabiskan pun tak sedikit yakni sekitar Rp400 juta.

Salah satu sesepuh adat Paguyuban Sekehe Astiti Rahayu Rsi Markandya Gunung Sari Artha I Gusti Agung Mangku Arcana mengatakan, keyakinan bahwa leluhur umat Hindu di Bali berasal dari Dieng diperkuat dengen keberadaan kompleks candi Hindu tertua di Dieng. Candi-candi tersebut dibangun pada abad kedelapan pada masa Mataram Kuno. "Candi di Dieng merupakan candi Hindu semua," katanya.

Menurut dia, sejarah leluhur Bali bisa dirunut dari perjalanan Rsi Markandeya. Pada abad ke-8 sang Rsi pertama kalinya masuk ke Bali.

Ia adalah pendeta Hindu Siwa Tattwa yang berasal dari India Selatan. Sang Rsi melakukan perjalanan panjang melintasi samudera dan mendarat di Pantai Utara Jawa, tepatnya di daerah Pekalongan.

Rsi lalu melanjutkan perjalanan ke arah selatan dengan menerobos hutan belantara. Naik turun gunung hingga akhirnya ia sampai di Dieng. Saat itu Dieng dalam kekuasaan Kerajaan Mataran Kuno yang diperintah oleh Dinasti Sanjaya yang juga beragama Hindu. Ia pun tinggal di Dieng sambil memperdalam ilmu agama Hindu.

Akibat banyaknya bencana alam yang terjadi di Pulau Jawa saat itu, seperti meletusnya Gunung Merapi, Rsi pun melanjutkan perjalanan ke timur. Kepindahannya diikuti pula oleh pengikutnya.

Rsi bersama pengikutnya mengikuti pergerakan penganut agama Hindu ke arah Jawa Timur yang kelak membentuk Kerajaan Medang Kemulan yang didirikan oleh Mpu Sendok. Rsi lalu tinggal untuk sementara di Gunung Raung sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanan ke timur.

"Hingga sampailah Rsi di Pulau Bali dan menetap selamanya di sana bersama pengikutnya yang kemudian menjadi leluhur kami," katanya.

Saat mendatangi Dieng, kata dia, ia serasa sedang berada di rumah. Ikatan batin dengan para leluhur bahkan bisa dirasakan sangat kuat saat berada di Dieng.

Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno mengatakan, dari sejumlah penelusuran sejarah yang dilakukan olehnya, kekerabatan orang Dieng dengan Bali memang sangat dekat. "Kalau mau diteliti, DNA-nya mungkin bisa mirip," ujarnya.

Penanda lainnya, kata dia, yakni soal anak-anak Dieng yang berambut gimbal ternyata juga banyak ditemukan di Bali. Padahal, di tempat lain fenomena tersebut tidak ada.

Hingga saat ini, kata hadi, dari sisi medis dan logika, belum ditemukan mengapa mereka bisa berambut gimbal saat anak-anak. Fenomena ini menguatkan bukti bahwa orang Bali mempunyai leluhur dari Dieng.

Menurut dia hal itu bisa terjadi karena pada masa kejayaan Wangsa Sanjaya, Dieng menjadi pusat pendidikan agama hindu. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan Dharmasalla beserta segala perlengkapannya. Dharmasalla itu merupakan lembaga pendidikan yang dikunjungi cantrik (semacam santri) dari berbagai penjuru dunia.

Setelah tamat mereka kembali ke daerah asal masing-masing. Perkawinan antara orang luar Dieng dengan masyarakat Dieng juga terjadi.

Lalu ada hipotesa kedua menurut Hadi. Menyingkirnya orang-orang dari Dieng disebabkan banyaknya bencana alam baik di kaldera Dieng, meletusnya gunung Merapi membuat Jawa Tengah tidak nyaman sebagai tempat pengembangan agama Hindu. Mereka lalu hijrah ke timur melewati pegunungan Bromo, Trenggalek, Banyuwangi hingga akhirnya menetap di Bali.

"Jadi ada benang merah historis antropologis bahkan mungkin DNA orang Dieng dan Bali itu berkaitan. Artinya nenek moyang orang Bali kemungkinan besar adalah orang Dieng," katanya.

Sedangkan Kholiq Arif dalam bukunya yang berjudul "Mata Air Peradaban" menyebutkan, Dieng dulunya merupakan poros peradaban Jawa yang melahirkan wangsa-wangsa besar seperti wangsa Syailendra dan Sanjaya. Bukti-bukti tersebut bisa ditelisik melalui berbagai prasasti seperti Prasasti Telaga Tanjung, Prasasti Gunung Wule, Prasasti Canggal, dan Prasasti Kedu.

Menurut dia, candi dan prasasti yang ada di kawasan Dieng dianggap sebagai bangunan historis paling awal yang ditemukan di Jawa. Ragam artefak dan prasasti itu menjadi bukti arkeologis hingga posisi Dieng dianggap sebagai poros peradaban Jawa.

Abdurrahman Wahid (almarhum), di dalam pengantarnya berpendapat, pada abad ke-8 orang-orang Sriwijaya (Wangsa Syailendra) mendarat di Pelabuhan Lama Pekalongan, kemudian mendaki Gunung Dieng. Setelah itu mereka menemukan Kerajaan Kalingga.

Sumber: https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/candi-yang-keluar-dari-bumi

Thanks for reading Candi yang keluar dari bumi

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment